Share It

Kamis, 07 Februari 2013

Filologi dalam kajian Islam

FILOLOGI
A.     Pendahuluan
Clifford Geertz pernah mengatakan bahwa Islam membawa rasionalisme dan ilmu pengetahuan serta menegaskan suatu sistem masyarakat yang berdasarkan orang-perorangan, keadilan, dan membentuk kepribadian mulia. Semangat rasionalisme dan intelektualisme Islam itu menyebar luas di kalangan elit kraton sampai rakyat kebanyakan. Semua ini dapat ditemukan dalam berbagai naskah yang berisi falsafah dan metafisika yang khusus ditulis untuk keperluan umum. Praktek mistik Budha, misalnya memperoleh nama-nama Arab seperti suluk, raja-raja Hindhu yang mengalami perubahan gelar untuk menjadi sultan Islam, dan masyarakat awam yang menyebut beberapa roh hutan dengan jin. 
Sebagaimana terungkap dari pernyataan Geertz di atas, disadari atau tidak, khazanah peninggalan berupa naskah merupakan bagian penting dalam kajian suatu peradaban atau kebudayaan, tak terkecuali kajian keislaman. Ribuan naskah yang dihasilkan oleh suatu kebudayaan sangat disayangkan jika tidak digali lebih lanjut sebagai sumber kajian dalam mempelajari kebudayaan yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan pengetahuan tentang suatu kaum (peradaban) dapat dilihat dari karya yang dihasilkan oleh kaum tersebut.
Sebagaimana dikutip oleh Nabilah Lubis, Prof. Baroroh Barried dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Bahasa Indonesia UGM mengatakan bahwa studi filologi merupakan kunci pembuka khazanah kebudayaan lama yang oleh karena itu perlu diperkenalkan pada masyarakat untuk menumbuhkan minat masyarakat terhadap kebudayaan lama.
Filologi merupakan satu kajian yang bertugas menelaah dan menyunting naskah untuk dapat mengetahui isinya. Cabang ilmu ini memang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, terutama di kalangan masyarakat Islam. Kekayaan dan warisan intelektual Islam menjadi terabai, padahal warisan inteletual yang berupa karya tulis itu sedemikian banyaknya. Di Indonesia saja, banyak peninggalan kitab klasik yang ditulis oleh ulama nusantara. Misalnya Imam Nawawi al-Bantani yang telah menulis tidak kurang dari seratus kitab berbahasa Arab dalam berbagai bidang keilmuan. Contoh lain, Syekh Mahfudh at-Tarmasy yang menulis hingga 60 kitab meliputi tafsir, qiraah, hadits, dan sebagainya.
Oleh karena itu, makalah ini akan membahas filologi sebagai pendekatan dalam pengkajian Islam.
B.     Pengertian Filologi
1.      Pengertian  Filologi dari segi bahasa
Filologi berasal dari bahasa Yunani philologia yang berupa gabungan kata dari philos yang berarti cinta dan logos yang berarti 'pembicaraan', 'kata' atau 'ilmu'. Dalam perkembangannya philologia berarti 'senang berbicara' yang kemudian berkembang menjadi 'senang belajar', 'senang kepada ilmu', dan kemudian 'senang kepada tulis-tulisan' yang bernilai tinggi (Kun Zachrun Istanti).
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Filologi berasal dari bahasa Yunani philein, "cinta" dan logos, "kata". Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno (http://id.wikipedia.org/wiki/Filologi).
2.      Pengertian  Filologi dari segi Istilah
Sebagai  istilah, filologi mulai dipakai pada kira-kira abad ke-3 SM oleh sekelompok ilmuwan dari Iskandariah, yaitu untuk menyebut keahlian yang diperlukan untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu beratus-ratus tahun sebelumnya. Pada waktu itu banyak naskah berupa gulungan papirus masuk dari beberapa wilayah sekitarnya ke perpustakaan Iskandariyah, yang fisik peninggalan tulisan itu mengandung sejumlah bacaan yang rusak atau beberapa versi. Beberapa diantaranya adalah naskah-naskah AlKitab yang muncul dalam beberapa versi. Gejala itu merangsang para ilmuwan untuk mengetahui firman Tuhan yang dianggap paling Asli. Merema membaca dan membandingkan berbagai versi Alkitab tersebut dari segi isi melalu perbandingan kata-per-kata, dari situlah lahir istilah 'cinta kata' atau filologi. Ilmuwan yang pertama kali melontarkan istilah 'filologi' bernama Eratothenes, seorang ahli astronomi.
Dalam perkembangan terakhirnya, filologi menitikberatkan pengkajiannya pada perbedaan yang ada dalam berbagai naskah sebagai suatu penciptaan dan melihat perbedaan-perbedaan itu sebagai alternatif yang positif. Dalam hubungan ini suatu naskah dipandang sebagai penciptaan kembali (baru) karena mencerminkan perhatian yang aktif dari pembacanya. Sedangkan varian-varian yang ada diartikan sebagai pengungkapan kegiatan yang kreatif untuk memahami, menafsirkan, dan membetulkan teks bila ada yang dipandang tidak tepat. 
Filologi adalah studi tentang budaya dan kerohanian suatu bangsa dengan menelaah karya-karya sastra atau sumber-sumber tertulis miliknya    (Pius A Partanto dan M. Dahlan al Barry : 1994: 178).
Sebagai istilah, filologi mempunyai definisi yang sangat luas, dan selalu berkembang.  
a.       Filologi sebagai Imu Pengetahuan
Filologi pernah disebut sebagai L’etalage de savoir ‘pameran ilmu pengetahuan’. Hal ini dikarenakan filologi membedah teks-teks klasik yang mempunyai isi dan jangkauan yang sangat luas. Gambaran kehidupan masa lampau, berserta segala aspeknya, dapat diketahui melalui kajian filologi. Termasuk di dalamnya, berbagai macam ilmu pengetahuan dari berbagi macam bidang ilmu.
b.      Filologi sebagai Ilmu Sastra
Filologi juga pernah dikenal sebagai ilmu sastra. Hal ini dikarenakan adanya kajian filologi terhadap karya-karya sastra masa lampau, terutama yang bernilai tinggi. Kajian filologi semakin merambah dan meluas menjadi kajian sastra karena mampu mengungkap karya-karya sastra yang bernilai tinggi.
a.          Filologi sebagai Ilmu Bahasa
Teks-teks masa lampau yang dikaji dalam filologi, menggunakan bahasa yang berlaku pada masa teks tersebut ditulis. Oleh karena itu, peranan ilmu bahasa, khususnya linguistik diakronis sangat diperlukan dalam studi filologi.
b.          Filologi sebagai Studi Teks
Filologi sebagai istilah, juga dipakai secara khusus di Belanda dan beberapa negara di Eropa daratan. Filologi dalam pengertian ini dipandang sebagai studi tentang seluk-beluk teks, di antaranya dengan jalan melakukan kritik teks.
Filologi dalam perkembangannya yang mutakhir, dalam arti sempit berarti mempelajari teks-teks lama yang sampai pada kita di dalam bentuk salinan-salinanya dengan tujuan menemukan bentuk asli teks untuk mengetahui maksud penyusunan teks tersebut. Filologi dalam arti luas berarti mempelajari kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana yang terdapat dalam bahan-bahan tertulis.
Mario Pei dalam bukunya yang berjudul Glossary of Linguistic Terminology (1966) memberikan batasan bahwa filologi merupakan ilmu dan studi bahasa yang ilmiah seperti yang disandang oleh linguistik pada masa sekarang, dan apabila studinya dikhususkan pada teks-teks tua, filologi memperoleh pengertian semacam linguistik historis (Baried, 1985: 3).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993: 277) istilah filologi diartikan sebagai ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis.
Filologi dalam Kamus Istilah Filologi (1977: 27), didefinisikan sebagai “ilmu yang menyelidiki perkembangan kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya, atau yang menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusastraannya”.
C.    Objek Kajian
Obyek kajian filologi adalah teks, sedang sasaran kerjanya berupa naskah. Naskah merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan peninggalan tulisan masa lampau, dan teks merupakan kandungan yang tersimpan dalam suatu naskah. ‘Naskah’ sering pula disebut dengan ‘manuskrip’ atau ‘kodeks’ yang berarti tulisan tangan.
Naskah yang menjadi obyek kajian filologi mempunyai karaktristik bahwa naskah tersebut tercipta dari latar sosial budaya yang sudah tidak ada lagi atau yang tidak sama dengan latar sosial budaya masyarakat pembaca masa kini dan kondisinya sudah rusak. Bahan yang berupa kertas dan tinta serta bentuk tulisan, dalam perjalanan waktu telah mengalami kerusakan atau perubahan. Gejala yang demikian ini terlihat dari munculnya berbagai variasi bacaan dalam karya tulisan masa lampau
D.    Dasar Kerja Filologi
Kerja filologi didasarkan pada prinsip bahwa teks berubah dalam penurunannya. Jadi, filologi bekerja karena adanya sejumlah variasi.
Variasi yang merupakan dasar kerja filologi pada awal mulanya dipandang sebagai kesalahan, satu bentuk korup (rusak), satu bentuk keteledoran si penyalin. Variasi juga dipandang sebagai bentuk kreasi penyalinan, yaitu hasil dari subjektivitasnya sebagai manusia penyambut teks yang disalin dan sebagai penyalin menghendaki salinannya diterima oleh pembaca sezamannnya.
Sikap-sikap inilah yang kemudian melahirkan berbagai pandangang dalam filologi, yaitu : (i) Sikap yang memandang varisi sebagai wujud kelengahan dan kelalaian penyalin, melahirkan pandangan yang oleh beberapa orang disebut dengan filologi tradisional. Dalam konsep ini, filologi memandang variasi secara negatif. Sebagai akibatnya, teks harus dibersihkan dari bentuk-bentuk korup dan salah itu. (ii) Sikap yang memandang variasi sebagai bentuk kreasi melahirkan pandangan yang oleh sementara orang disebut filologi modern. Dalam konsep ini variasi dipandang secara positif, yaitu menampilkan wujud resepsi si penyalin. Dalam pandangan yang kedua ini, perlu diingat pula bahwa adanya gejala yang memperlihatkan keteledoran si penyalin tetap juga diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pembacaan (Elis Suryani, 2012 : 7).
E.     Latar Belakang Lahirnya Filologi
Paling tidak, ada beberapa faktor yang mendorong lahirnya disiplin filologi sebagaimana disebutkan Baroroh Baried dkk. (1994 : 2) sebagai berikut :
a. Munculnya informasi tentang masa lampau di dalam sejumlah naskah atau karya tulisan .
b. Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tulisan masa lampau yang masih relevan dengan kehidupan masa kini.
c. Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang.
d. Perubahan latar belakang budaya antara masa lalu dan masa sekarang
e. Keperluan pemerolehan pemahaman yang lebih tepat dan akurat.

F.     Tujuan Filologi
Tujuan studi filologi dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum filologi yaitu: (1) memahami sejauh mungkin kebudayaan suatu bangsa melalui hasil sastranya, baik lisan maupun tertulis; (2) memahami makna dan fungsi teks bagi masyarakat penciptanya; (3) mengungkapkan nilai-nilai budaya lama sebagai alternatif pengembangan kebudayaan. Sedangkan tujuan khususya adalah: (1) menyunting sebuah naskah yang dipandang paling dekat dengan teks aslinya; (2) mengungkap sejarah terjadinya teks dan sejarah perkembangannya; (3) mengungkap resepsi pembaca setiap kurun penerimaannya(Elis Suryani, 2012 : 6).
G.    Pendekatan Filologi dalam Studi Islam
Al-Qur’an juga dapat dikaji secara tekstual, artinya data-data tersebut dapat dianalisis dengan teks Al-Qur’an atau dengan Hadits Nabi saw dan Riwayat Sahabat.
Jika ditarik dari akar sejarahnya, maka memahami Al-Qur’an dengan cara ini dapat ditemukan pada masa Rasulullah saw sendiri (Manna Al-Qathan.335). Sedang yang mulai mengembangkan secara mendalam adalah Ibnu Abbas (As-Suyuthi.113-114). Metodelogi yang digunakan Ibnu Abbas dalam mengungkapkan makna Al-Qur’an adalah dengan :
1.      Sunnah Rasulullah
2.      Penejelasan Israiliat yang diambil penganut Yahudi yang melakukan konversi kedalam Islam khususnya berkenaan dengan kelengkapan penjelasan sejarah masa lalu
3.      Menggunakan bantuan syair-syair Arab pra-Islam (M. Alfatih Suryadilaga dkk,. : 2005 : 77-78)
Bangsa Arab pra-Islam dikenal dengan karya-karya syair maupun sastra prosanya. Karya yang paling terkenal adalah “Muallaqat” (berarti “yang tergantung), karya-karya yang berupa qasidah-qasidah panjang dan bagus yang digantungkan pada dinding Ka’bah dengan tujuan agar dibaca masyarakat Arab pada hari-hari pasar dan keramaian lainnya.
Penelitian naskah Arab telah lama dimulai, terlebih pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Pada masa itu, nash al-Qur’an mulai dikumpulkan dalam satu mushaf. Hal ini membutuhkan ketelitian untuk menyalin teks-teks al-Quran ke dalam mushaf tersebut. Ayat-ayat al-Quran yang sebelumnya tertulis secara berserakan pada tulang belulang, kulit pohon, batu, kulit binatang, dan sebagainya dipindah dan disalin pada sebuah mushaf dan dijadikan satu. Pekerjaan menyalin ayat-ayat al-Quran ini dilaksanakan dengan ketelitian menyangkut orisinalitas wahyu ilahi yang harus senantiasa dijaga.
Menurut J.J.G. Jansen dalam buku The Interpretation of the Koran in Modern Egypt. Ada dua tahapan  dari Filologi Arab kuno yang mendasari studi kontemporer mengenai bahasan al-Qur’an yang secara jelas dapat dilihat.
Tahap pertama, studi mengenai kosa kata Al-Qur’an. Tokoh model ini adalah Ibnu Abbas(w.687). Ia piawai dan serba bisa menjawab persoalan-persoalan yang muncul seputar teks Al-Qur’an. Kemasyhurannya tampak melalui Tafsir At-Tabari tentang QS. 2: 266. Suatu ketika Umar bin Khattab  (w.644) marah kepada seorang sahabat yang menjawab dengan “Allah Maha Tahu”, ketika ditanya tentang makna QS. 2 : 266 ;
Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya?

Kemudian Ibnu Abbas  berpaling kepadanya dan memberikan jawaban kepada Umar bahwa ayat ini merupakan perumpamaan dari ketidaktentuan perbuatan baik manusia.
Tahap kedua, yang mendasari tafsir filologi modern adalah Az-Zamakhsyari (w.1444) tokoh yang menyempurnakan analisis sintaksis terhadap Al-Qur’an. Contoh: Tafsir Az-Zamakhsyari ditulis tahun 1131 dan 1333 M. Misalnya tafsir QS. 6 : 2
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلاً وَأَجَلٌ مُّسمًّى عِندَهُ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ
[6:2] Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

Dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya)(terjemahan Bell) وَأَجَلٌ مُّسمًّى عِندَهُ     kata perintah dalam frase ini berlawanan dengan ketentuan bahwa dalam sebuah frase nominal yang predikatnya terdiri dari sebuah kata depan yakn i(’inda)  dan sebuah kata benda atau kata ganti benda (yakni, hu) dan subyeknya (yakni, ajal) yang tertentu, maka predikatnya seharusnya mendahului subyek. Kalimat normal dalam ayat tersebut seharusnya adalah   wa’indahu ajal.
Az-Zamakhsyari, sebagaimana dikutip Nabilah Lubis, mengungkapkan kegiatan filologi sebagai tahqiq al-kutub. Secara bahasa, tahqiq berarti tashhih (membenarkan/mengkoreksi) dan ihkam (meluruskan). Sedang secara istilah, tahqiq berarti menjadikan teks yang ditahkik sesuai dengan harapan pengarangnya, baik bahasanya maupun maknanya. Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa tahqiq bertujuan untuk menghadirkan kembali teks yang bebas dari kesalahan-kesalahan dan sesuai dengan harapan penulisnya. Tahqiq sebuah teks atau nash adalah melihat sejauh mana hakikat yang sesungguhnya terkandung dalam teks tersebut. 
Selanjutnya Amin Khuli (w.1967) menawarkan bahwa secara ideal studi tafsir Al-Qur’an harus dibagi dalam 2 bagian :
a.    tentang latar belakang Al-Qur’an tentang sejarah kelahirannya, tentang masyarakat dimana Al-Qur’an diturunkan dan bahasa masyarakat yang dituju oleh Al-Qur’an dan lain-lain.
b.    Penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan melihat studi terdahulu
Ia menganggap penting untuk menetapkan pertama-tama, sejauh mungkin makna literal yang benar dengan menggunakan seluruhnya bahan sejarah dan bahan-bahan lainnya yang tersendiri, sekalipun (kita) tidak mencari manfaat rohaniah melaluinya dan tanpa memperhatikan agama. Penekannya pada pentingnya latar belakang historis untuk mengapresiasi makna secara benar makna literal Al-Qur’an.
Untuk tugas kedua tafsir-tafsir Al-Qur’an adalah bahwa pertama, ia sangat mendorong sarjana yang ingin menulis tafsir Al-Qur’an agar memperhatikan semua ayat dimana Al-Qur’an membicarakan suatu subyek dan tidak membatasi mereka pada penafsiran satu bagian saja dengan mengabaikan pada pernyataan-pernyataan lain Al-Qur’an pada topik yang sama, seperti QS. 2 : 30-39 tentang Adam . Namun Adam ini sesungguhnya dijelaskan pula dalam surah 7 : 10-33, 15 : 28-42, 18 : 50 dan lain-lain.
Kedua, menekankan studi yang cermat atas setiap lafadz Al-Qur’an tidak saja dengan bantuan-bantuan kamus klasik, tapi bantuan adanya paralel Al-Qur’an dari lafadz-lafadz. Ketiga, mufasir Al-Qur’an seharusnya menganalis bagaimana Al-Qur’an menggabungkan lafadz kedalam kalimat dan berusaha menjelaskan efek psikologis bahasa Al-Qur’an terhadap para pendengarnya.
Sayang, dia sendiri tidak menulis tafsir hingga wafat. Namun demikian, cita-citanya dilanjutkan oleh istrinya, Dr. ‘Aisha Abdurrahman yang dikenal dengan nama samaran Bint As-Shati. Tulisannya dipublikasikan tahun 1962 jilid I dari dua jilid, edisi kedua tahun 1966 dan edisi ketiga tahun 1968. Tafsir Al-Qur’an surat pendek, mislanya tafsir QS. 93 (Ad-Dhuha), dengan mengurai kata qasam sebagaimana harapan Amin Khuli. (lihat hlm. 122)
Tafsir Amin Khuli dan istri, merupakan  kritik kepada Muhammad Abduh yang menafsirkan Al-Qur’an secara dogmatis dan ortodoks.
Dalam konteks keindonesiaan, manuskrip Islam terbagi ke dalam tiga jenis. Pertama, manuskrip berbahasa dan tulisan Arab. Kedua, manuskrip Jawi, yakni naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi berbahasa Melayu. Ketiga, manuskrip Pegon, yakni naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa daerah seperti, bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Buton, Banjar, Aceh dan lainnya. 
Manuskrip keislaman di Indonesia lebih banyak berkaitan dengan ajaran tasawuf, seperti karya Hamzah Fansuri, Syeh Nuruddin ar-Raniri, Syeh Abdul Rauf al-Singkili, dan Syeh Yusuf al-Makassari. Tidak sedikit pula yang membahas tentang studi al-Quran, tafsir, qiraah dan hadis. Misalnya Syeh Nawawi Banten dengan tafsir Marah Labib dan kitab Al-Adzkar. Ada pula Syeh Mahfudz Termas dengan Ghunyah at-Thalabah fi Syarh ath-Thayyibah, al-Badr al Munir fi Qiraah Ibn Katsir dan karya-karyanya yang lain. Sebagian karya-karya tersebut sudah ditahqiq, dalam proses tahqiq, dan dicetak tanpa tahqiq. Sementara sebagian besar lainnya masih berupa manuskrip. Padahal umumnya, karya kedua tokoh ini juga menjadi rujukan dunia Islam, tidak hanya di Indonesia.
H.           Urgensi Filologi pada penggalian khasanah pengetahuan Islam
Pentingnya studi filologi dalam Al-Qur’an tak lain untuk memastikan kemurnian teks al-Qur’an itu sendiri ; apakah ada perubahan-perubahan yang dilakukan oknum-oknum yang berusaha mengacau kitab suci al-Qur’an setiap zaman, meskipun Allah Swt telah menjamin kemurnian al-Qur’an (QS.15:9). Begitu pula ilmu Hadits yaitu untuk menjamin keabsahan suatu teks atau matan suatu hadis, termasuk ilmu-ilmu Fiqh dan aqidah, karya ulama-ulama terdahulu. Dengan melalui penelitian naskah-nskah klasik kita akan mengetahui tingkat kesempurnaan karya para ulama (Nabilah Lubis, 2012 : 135).

Dalam tulisannya Naskah dan Penelitian Keagamaan (dalam Nabilah), Oman Fathurahman memperlihatkan betapa naskah-naskah Nusantara terutama naskah Melayu memiliki nuansa keislaman yang sangat kental. Nuansa tersebut terdapat pada naskah-naskah yang memuat tema-tema seperti fiqih, tafsir, tauhid dan tasawuf (dalam Nabilah Lubis, 2001 : 2).
Indikasi yang cukup kuat ini didukung dengan adanya informasi-informasi yang kita temukan dalam katalog-katalog naskah. Katalog PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) misalnya mendaftarkan sekitar + 764 naskah berbahasa Arab ini belum memperhitungkan varian naskah karena hanya melihat data A 764 sebagai akhir dari halaman daftar tersebut (Behrend, 1998 :21). Koleksi naskah Melayu PNRI juga tergolong besar yakni sejuimlah + 542 naskah.
Kita tentu yakin bahwa khasanah Islam tidak hanya ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu saja melainkan juga dalam bahasa-bahasa Nusantara lainnya seperti bahasa Jawa, Sunda, Bugis dan lain sebagainya. Hal ini di satu sisi menandakan betapa intensnya penyebaran Islam di kawasan Nusantara dan di sisi yang lain mengindikasikan betapa luas dan kayanya materi naskah kita.
I.       Generasi Filologi Indonesia
Generasi ahli filologi di Indonesia secara umum, terdiri atas empat genarasi untuk filologi naskah Arab, Melayu, Jawa, Sunda dan lain-lain.
1.      Angkatan pertama, dekade 1960-an, yaitu : generasi Prof. Dr. Husein Djayadiningrat.
2.      Angkatan kedua, dekade 1970-an, yaitu : Prof. Dr. Achadiyat Ikram dan Prof. Dr. Baroroh Baried
3.      Angkatan ketiga, dekade 1980-an, yaitu : Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno.
4.      Angkatan keempat, dekade 1990-an, yaitu : Prof. Dr. Nabilah Lubis dan Prof. Dr. Ahmad Purwadaksi
5.      Angkatan kelima, dekade 2000-an, yaitu : Dr. Oman Faturrahman ((Nabilah Lubis, 2012 : 171).
J.      Kesimpulan
Pendekatan filologi digunakan dalam kajian studi Islam dalam rangka memperoleh informasi dari sebuah teks melalui penelitian terhadap berbagai naskah keislaman yang ada. Mengingat banyaknya khazanah intelektual Islam, tentu membutuhkan banyak waktu untuk melakukan penelitian tersebut. Pendekatan filologi menjadi sangat penting sepenting kandungan teks itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar